Dodo, anak kecil
yang berusia 10 tahun sudah harus menjalani pahitnya hidup, ia tidak sekolah
karena akibat kendala ekonomi keluarganya. Emaknya yang hanya seorang kuli cuci
hanya cukup untuk membiayai makan keluarganya. Dodo tidak pernah merasa malu
dan jijik menjadi seorang pemulung karna baginya selama dia bisa membantu
keluarganya akan ia lakukan. Sekali lagi masalah pendidikan yang dimana wajin
sekolah 9 tahun masih belum dapat di rasakannya. Ayahnya telah meninggal ketika
ia masih kecil akibat sakit-sakitan dan tidak mampu untuk membawanya ke dokter.
Ada satu tempat dimana dodo sangat bahagia disana. Darul Muta’alim, sebuah
tempat pengajian dimana anak-anak seumurannya belajar tentang agama dengan
sangat gembira, memperhatikan murid-murid yang sedang membaca al-qur’an ataupun
iqra, murid-murid yang sedang bercanda dan yang lain lagi. Dodo sangat ingin
berada disana tetapi sayang dia tidak mempunyai baju koko dan peralatan tulis
karena untuk biaya hidup keluarganya saja sangat sulit.
Saat sedang membersihkan botol-botol
plastik dan gelas-gelas plastik yang di dapatkannya bersama emaknya, Dodo
memandang wajah emakya. Memberanikan diri untuk mengatakan kemauannya untuk
belajar mengaji. Sambil memandang wajah emaknya dodo berkata kepada emaknya.
“Mak, dodo boleh belajar
ngaji gak?” Tanya dodo kepada emaknya.
“Do, emang kalo
kamu belajar ngaji kita bakalan kaya? Bakalan hidup enak? Enggak kan do” Kata
emaknya yang lagi mencuci botol-botol plastik dan gelas-gelas plastik bekas
itu.
“tapi kepengen
belajar ngaji mak” Sambil memandang wajah emaknya.
“buat biaya
hidup sehari-hari aja susah do apalagi ditambah saat harga kebutuhan sembako
yang terus menerus naik, ditambah lagi biaya berobat yang semakin mahal”. Sambil berhenti mencuci
botol-botol plastik dan gelas-gelas plastik bekasnya dan memandang dodo.
“tapi mak...” Belum sempat dodo menyelesaikan
omongannya Emaknya memotong perkataan
dodo dan berkata.
“Do, kamu liat tuh orang-orang
kaya, mereka orang-orang yang ngaji tapi mereka gak pernah memikirkan kita,
gak pernah berbagi sama-sama kita, sama-sama orang miskin, bahkan sebagian
mereka orang-orang yang mengaji menumpuk harta do, tidak peduli lagi sama kita.” Jelas emak
kepada dodo..
Dodo hanya memandang emaknya berharap
dapat mengerti akan keinginan Dodo.
“ inget kata
Bapakmu pekerjaan kita itu emang berguna buat orang lain tapi mereka yang gak
berguna buat kita, gak tau terimakasih justru malah selalu mengabaikan kita
merasa jijik”. Sambil
menaruh botol-botol dan gelas-gelas plastik bekas yang sudah bersih dan
melanjutkan pembicaraannya kepada Dodo sambil berjalan meninggalkan Dodo.
Pada saat Amy sedang bermain demprak bersama rizal dan rido, tiba-tiba dia teringat
dengan sosok pemulung yang selalu hadir di pengajian itu.
“kalian tau pemulung yang setiap sore dateng
ke pengajian kita gak?” kata dodo kepada Rizal dan Rido.
“enggak tau my, kenapa emangnya?” Jawab rido.
“aku sih sering banget ngeliat dia My,
memperhatikan kita lagi belajar ngaji” sambung Rizal kepad amy dan
berhenti sejenak dengan permainan dempraknya.
“kayanya
dia pengen banget belajar ngaji
bareng kita deh”
“masa sih My?” sambil melihat Amy dan berhenti
sejenak dengan permainnya.
“iya beneran Do” sambil melihat kearah Rido.
“iya
juga yah My, ngapain dia selalu memperhatikan kita saat lagi ngaji” sambung
Rizal.
Seketika Amy teringat dengan baju
kokoh yang tidak terpakai di lemarinya.
“aku pulang dulu
ya, kan kita bentar lai mau ngaji” Kata
amy.
“lah trus ini dempraknya gimana?” Tanya rido
kepadi amy.
“ Lanjutin besok lagi aja” Teriak amy
dan berlari meninggalkan mereka.
“aku juga pulang
dulu ah mau mandi” Kata
rizal.
“lah zal kok kamu jadi ikutan si amy sih”
“bodo amat”
sambil berlalri meninggalkan Rido.
Rido pun ikutan pergi dan pulang.
Sesampainya amy dirumah dia langsung
mencari baju kokoh yang sudah tidak dipakainya itu. Ketika baju kokoh itu
ketemu, amy pun
tersenyum dan memasukan baju kokoh itu kedalam tasnya bersama buku dan alat
tulis yang tidak dipakainya itu dan ia
bergegas pergi untuk ngaji seperti
biasa.
Pengajianpun dimulai. amy yang sedang menanti
pemulung yang dilihatnya kemarin. Lama amy menuggu dan akhirnya dodo pun datang. Dodo seperti biasa berhenti
sejenak disana, menaruh bawaannya di tanah dan memperhatikan anak-anak yang
sedang belajar ngaji. Dodo
pun kaget ketika salah satu anak pengajian itu berlari kearahnya sambil membawa
baju kokoh, buku dan alat tulis kearahhnya. Dodo pun dengan cepat mengangkat
bawaannya itu tetapi telat Amy sudah di depannya dengan sambil tersenyum dan
menyodorkan baju kokoh, buku, dan alat tulisnya..
“ini buat kamu
dari pada kamu memperhatikan dari jauh, mending kita belajar bareng” kata Amy
kepada dodo.
“makasih” Kata dodo sambil tidak percaya apa yang
dialaminya.
“nama aku Amy,
nama kamu siapa?” Kata
amy sambil menyodorkan tangannya untuk berkenalan.
“Dodo” Kata dodo sambil mnyambut tangan amy.
“Besok gak boleh
lagi memperhatiin kita dari sini, tapi dari sana” sambil melepas jabatannya dan
menunjuk kearah ruang pengajian.
Dodo hanya memandang Amy dan
tersenyum. Dodo
pun mulai belajar mengaji bersama anak-anak yang biasanya hanya dapat dia
bayangkan dari kejauhan.