Jumat, 21 Februari 2014

Kamera dan Cinta

            “mas, boleh fotoin aku gak?. Suara seorang wanita terdengar dari belakang Dion yang sedang memotret.
Dion menoleh kebelakang dan terbengong ketika melihat wanita itu. Sinta, itulah namanya. Sore itu Sinta dan Dion menghabiskan waktu bersama. Dion sangat senang bisa berkenalan dengan Sinta. Hari-hari berikutnya Sinta dan Dion semakin deka, hingga akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk menjalin hubungan.
            Dua tahun mereka menjalin hubungan. Delon mendapat panggilan untuk pertukaran pelajar dan terpaksa meninggalkan Sinta selama tiga tahun.
            “kamu bakalan ambil itu?”. Tanya sinta kepada Dion.
            “iya, aku akan ambil itu, itu adalah keinginan aku, mimpi aku dan cita-cita aku”. Kata Dion meyakinkan Sinta.
            “berarti kamu bakal ninggalin aku?”. Balas Sinta berharap agar  tidak ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai dan ia sayangi.
Dion terdiam sejenak, suasana menjadi begitu hening. Disatu sisi Dion sangat ingin mengambil pertukaran pelajar itu. Dion melihat kameranya dan melepaskan kameranya dari lehernya.
            “ini kamera aku, anggap kamera ini adalah aku”. Kata Dion tersenyum kearah Sinta.
            “maksud kamu?”. Tanya Sinta heran.
            “rawat kamera ini, jaga dia seperti aku menjaga kamu”. Kata Dion untuk meyakinkan sinta bahwa jarak bukanlah halangan untuk hubungan mereka.
Sinta hanya memegang kameranya dan terdiam, tidak bisas berkata apapun lagi karena sedih akan ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai.
            “tunggu aku tiga tahun yah saying, kita bertemu disini lagi”. Kata Dion disela keheningan diantara mereka berdua.
            “aku sayang sama kamu”. Kata Sinta diiringi dengan air mata yang keluar di sela matanya.
            “aku juga sayang sama kamu”. Balas Dion dan memeluk sinta sambil mengecup keningnya.
            Waktupun terus berjalan, Sinta yang sudah ditinggalkan Dion sekarang lebih sering menjadi seperti Dion, ketertarikannya dengan foto-foto pemandangan membuatnya selalu ingat dengan Dion. Kamera Dion selalu dibawa oleh sinta untuk mengisi kerinduannya terhadap Dion.
            Tiga tahun berlalu begitu cepat. Sinta yang sedang memotret tempat mereka bertemu. Sinta mendengar suara seseorang dari belakangnya, suara yang sangat ia rindukan dan suara yang mengisi kehidupannya.
            “mba, boleh fotoin saya gak?”

Sintapun menoleh kebelakang dan tersenyum senang, ternyata itu adalah Dion. Sintapun langsung menghampiri Dion dan memluk Dion, melepaskan rindu selama tiga tahun mereka tidak bertemu.

Persahabatan 3019 Mdpl

            “Lo ngerasa bosen gak sih dengan kehidupan kaya gini?” Kata dimas kepada andre yang sedang asyik bermain gitarnya.
            “maksudnya?” jawab dimas heran dan menghentikan permainan gitarnya.
            “ngampus, balik ke kostan, tidur, gitu-gitu doang setiap hari”.
            “yabosen sih tapi mau gimana lagi”.
Andre bengong sesaat dan Dimas kembali bermain dengan  gitarnya.
            “naik gunung yuk” ajak Andre kepada Dimas.
            “hah… gunung apa?” jawab Dimas kaget dan kembali menghentikan permainan gitarnya.
            “Gunung Gede Pangrango aja
            “Ayo !!! dari kecil gw pengen banget naik gunung ndre” kata dimas yang penuh semangat.
            “tapi lo harus dapet ijin dulu dari orang tua” sambung Andre kepada Dimas.
            “loh emang kenapa ndre?”.
            “naik gunung itu gak boleh asal naik”
            “maksudnya ndre?”
            “itu udah hukum alam”
            “tapi kalo gak diijinin ndre?”
            “ya, lo harus bisa yakinin mereka dim”
            “caranya ndre?”
            “lo pengen banget naik gunung dim?”
            “iya ndre”.
            “tujuan  lo pengen naik gunung itu apa dim?”
            “gw pengen bersahabat sama alam dan gw pengen mengagumi keindahan alam”
            “dan satu lagi jangan lupa lo bakal tau siapa lo disana sebenarnya”
Dimaspun seketika terdiam. Memikirkan akan keinginannya itu.
            ”kalo udah dapet ijin kabarin gw, kita gapai keinginan lo itu”.
Andre pun mengambil tasnya, membuka bukunya dan mencopot satu bagian kertas dari bukunya.
            “ini yang bakal lo butuhin disana, semuanya ada disitu, tinggal dicari aja
Dimas membaca kertas itu, kertas yang berisikan perlengkepan apa saja yang harus dibawa.
            ”gw yakin lo bisa kok yakinin mereka buat menggapai keinginan lo itu” kata Andre pergi meninggalkan Dimas          dan kembali ke kostannya.
            Dimas adalah mahasiswa semester tiga begitupun Andre. Mereka berteman sejak awal masuk kuliah dan mereka tinggal di kostan yang sama. Sejak kecil Dimas yang sangat ingin mendaki selalu tidak diijinkan oleh orang tuanya karena khawatir terjadi apa-apa kepadanya. Berbeda dengan Andre dia lebih suka berada di gunung dari pada di kota. Handphone Andre berdering dan melihat ada sms di handphonenya, diapun melihatnya isi pesan itu ternyata pesan dari Dimas.
Gw diijinin ndre !!!”. begitulah isi pesan tersebut.
oke, nanti ketemuan di Terminal Kampung Rambutan, jangan lupa perlengkapan yang gw tulis itu wajib” Andre membalas sms Dimas.
“siap bos !” sms dari Dimas.
Andrepun tiba tiba di Terminal Kampung Rambutan dengan gagah membawa carielnya. Andre memperhatikan sekita, mencari Dimas. Lama memperhatikan dan mencari Dimas, Dimaspun datang dari belakangnya dan mengagetkan Andre.
woi, nungguin cw lo ya?
“sialan, gw kirain lu gak bakalan dateng” kata Andre kaget.
dateng dong, masa gw mau ngejar keinginan gw, gw gak dateng” jawab Dimas.
Andre hanya tersenyum melihat temannya yang penuh semangat.
            “makasih ya ndre, lo berhasil ngeyakinin orang tua gw
            “bukan gw dim, tapi lo beloon” sambil memegang pundak Dimas dan tertawa.
            “tuh busnya dim, yuk berangkat”
            “yuk ndrekata dimas dan mereka berdua pun bergegas menuju bus dan mencari tempat duduk.
Dalam perjalanan mereka mengobrol sana sini, membicarakan tentang kuliah, dosen, tertawa, bercanda, dan membicarakan tentang kehidupan masing-masing. Merekapun sampai di cibodas, bogor. Mereka turun dari bus dan mencari angkot untuk menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sesampainya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merekapun masuk dan mendaftar untuk mendapatkan ijin mendaki. Mereka pun berjalan keluar setelah mendapatkan surat ijin mendaki.  Sebelum mereka memulai perjalanan Andre mengajak Dimas untuk berdoa terlebih dahulu.
“kita berdoa dulu yuk, biar gak terjadi apa-apa, berdoa mulai… selesai, udah siap dim?”
“siap gak siap, ya siapin ndre” jawab dimas, mereka tertawa dan mulai berjalan.
Pos pertama. Sesampainya di pos pertama Andre masuk dan menyerahkan surat ijin mendaki sambil memperlihatkan barang-barang yang di bawanya mendaki begitupun Dimas. Barang-barang pun sudah dimasukan kembali ke dalam cariel masing-masing mereka kembali melanjutkan perjalanan mendaki. Dalam perjalanan Dimas selalu melihat banyak sampah yang berserakan baik di pos ataupun perjalanan dan heran akan hal itu.
“ndre, emang mereka pada gak peduli yah sama alam? kok sampah mereka di buang kaya gak ada dosa” tanya Dimas di tengah perjalanannya.
“itulah salah satu sifat jelek manusia, mereka gak pernah perduli dengan alam, gak menjaga keindahan alam, kita gak boleh kaya gitu okeh” jawab andre.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Berjalan dan berjalan hanya itu yang mereka lakukan, ditemani pepohonan yang menjulang tinggi dan suara kicauan burung-burung. Mereka beberapakali berhenti untuk mengisi tenaga, minum dan makan roti, coklat atau makanan lainnya yang mengandung gandum untuk mengisi perut mereka.
            Enam jam mereka berjalan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango akhirnya sampai pada pos Kandang Badak.
            “capek ya mendaki gunung dim?” tanya Andre melihat dimas yang ngos-ngosan.
            “banget, kenapa lu gak bilang kalo mendaki gunung itu capek” jawab Dimas sambil mencari napas.
            “kalo gak mau capek, naik gondola aja dim hahaha” balas Andre.
            “sialan lo ndre”  tambah dimas disela napasnya yang ngos-ngosan.
            “udah, bantuin gw bikin tenda, kita ngecamp dulu disini besok baru berangkat lagi” sambil Andre mengeluarkan tenda dari carielnya dan Dimaspun menaruh carielnya kemudia membantu Andre membuat tenda.
Haripun semakin gelap, Andre membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Dimas yang berada di dalam tenda keluar dan ikut bergabung menghangatkan diri di depan api unggun.
            “ndre, kok lo gak pernah keliatan capek atau kedinginan sih?” tanya Dimas.
            “:motivasiin diri aja sendiri aja, banyak orang yang mengeluh capeklah, inilah, itu, karena mereka gak bisa motivasiin diri mereka sendiri” jawab Andre.
Dimas hanya terdiam, sangat beruntung mempunyai teman seperti Andre. Teman yang memberikannya banyak pelajaran baru untuknya, pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
            “hidup itu ibaratkan mendaki, capeknya mendaki capeknya yang akan lo rasain di kehidupan nyata, tapi ketika berhasil mencapai puncaknya, kesenangan, kebanggaan, kebahagian dan keindahan itu adalah sesuatu yang gak ternilai sama sekali” kata andre kepada Dimas.
Dimas hanya diam seribu bahasa. Bagaikan sebuah pelajaran yang di berikan oleh dosen di waktu kuliah, tetapi pelajaran itu bukanlah diberikan oleh dosen, melainkan oleh temannya yaitu Andre.
            “tidur yuk, besok kita harus bangun pagi” ajak Andre kepada Dimas yang terdiam.
Merekapun masuk kedalam tenda untuk tidur, mengistirahatkan tubuh yang lelah di bawah sinar bulan, bintang dan api unggun yang mulai redup.
            Pagi hari, matahari perlahan muncul dan menerangkan suasana Kandang Badak. Andre bangun dan membuka tenda, kemudia keluar tenda untuk merasakan kehangatan dari cahaya sang mentari. Dimas pun bangun dan melihat Andre sudah tidak ada di dalam tenda, ia keluar tenda dan melihat Andre yang sedang berdiri menghadap cahaya matahari. Dimas menghampiri Andre dan bertanya.
            “lo lagi ngapain ndre?”
            “menghargai pemberian tuhan” jawab Andre.
Sekali lagi Dimas tercengang akan temannya itu.
            “beres-beres yuk, kita masih harus lanjut lagi” ajak Andre kepada Dimas.
Mereka pun bergegas kembali ke tendanya untuk beres-beres. Tenda sudah masuk kedalam cariel Andre dan Dimas yang bersiap dengan carielnya untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Andre dan Dimas sudah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak.
            “sebelum kita melanjutkan perjalanan, kita berdoa dulu” ajak  Andre dibalas dengan anggukan oleh Dimas.
            “berdoa… mulai…” mereka pun berdoa dalam hati agar perjalanan nantinya tidak terjadi hal yang tidak di inginkan atau yang lainnya.
            “selesai… yuk kita jalan” kata Andre dan mereka pun mulai berjalan untuk menuju puncak.
            Dalam perjalanan seketika dimas teringan dengan kehidupannya di kota.
            “ndre…” panggil Dimas.
            “iya, dim?” jawab Andre.
            “gw nyesel banget ndre” kata dimas sambil menundukan kepalanya.
            “nyesel kenapa dim?” tanya Andre sambil tetapi memperhatikan langkah kaki dan sekitarnya.
            “iya… lo tau kan ndre, di kota gw sering banget buang makanan, minuman gitu aja kalo gak habis”
Andre hanya tersenyum melihat temannya itu dan mengerti apa yang di dalam pikirannya itu.
            “disini itu semua sangat berarti banget ya ndre” tambah Dimas.
            “itulah hukum alam,  kita itu bodoh, menyia-nyiakan apa yang udah diberikan oleh alam, bahkan sebagian mencapakannya, mengabaikannya bahkan merusaknya” kata Andre.
            “gw sering banget ngeluh capeklah, inilah, itulah, tapi disini, ternyata ngeluh itu gak berguna ya ndre” lanjut Dimas.
            “itulah sebabnya gw ngajak lo naik gunung” jawab Andre.
            “makasih ya ndre, lo udah member pelajaran banyak buat gw disini”
            “bukan gw, tapi alam” kata Andre yang tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan mereka kembali.
            Satu lagi pelajaran yang berharga di dapatkan oleh Dimas. Tertunduk diam, tidak bisa berkata apa-apa lagi, bagaikan sebuah tamparan keras yang mendarat tepat di pipinya, sebuah pukulan yang menghantam langsung kedalam lubuk hatinya, dan sebuah arti siapa dia ketika berada di alam. Perjalanan yang semula tanah dan akar-akar pohon yang tidak beraturan sekarang hanya menjadi ranting-ranting, bebatuan yang besar, kerikil-kerikil, pohon-pohon yang hanya ranting dan daun yang lebat dan sebagian bunga-bunga untuk mempercantik pohon-pohon itu, ditambah di balik bebatuan besar itu ada sebuah kawah yang sangat besar, menandakan sebentar lagi adalah puncaknya, puncak Gunung Gede 1309 Mdpl. Andre menoleh kearah Dimas, melihat temannya yang sudah sangat lelah. Keringat bercucuran di sekitar wajahnya, Andre hanya tersenyum dan berkata.
            “selamat dim, lo berhasil mengejar keinginan lo itu”
Dimas melihat sekeliling, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dimas melihat di kedepan, melihat sebuah tulisan yang beruliskan “Puncak Gede 3019 Mdpl”. Dimas pun menangis tidak dapat menahan air matanya, rasa senang, sedih, dan bangga semua menjadi satu yang ia rasakan saat itu. Andre yang melihat temannya itu hanya tersenyum, ia mengerti apa yang dirasakan oleh temannya itu. Dimas yang menangis langsung menghampiri Andre sambil masih menangis dan berkata.
            “sialan lo ndre, gw udah gak bisa ngomong apa-apa lagi ndre”
            “hahaha… kenapa sih dim?” tanya Andre yang tertawa melihat Dimas.
            “kenapa gak dari dulu lo ajak gw ndre”
            “belum waktunya dim”
            “lo adalah orang pertama yang memberikan pengalaman berharga ini ndre, suatu saat nanti bakalan gw certain ke orang tua gw, orang tua gw, dan istri gw ndre” kata Dimas dan langsung melihat sekeliling.
            “hahaha… gak segitunya juga kali” kata Andre yang tertawa mendengar perkataan Dimas.
Dimas hanya terdiam, memandang sekeliling dengan pandangan terharu dan takjub atas keindahan alam yang diberikan oleh tuhan. Nafas yang tadinya seperti ingin putus seketika bagaikan ditambah oksigen yang begitu banyak, tubuh yang lelah seketika menjadi segar kembali, dan muka yang sayu seketika bagaikan disiram air yang begitu segar.  Dimas pun bersujud syukur dan mencium tanah puncak itu, puncak yang diberikan oleh tuhan untuk manusia.
            Matahari pun semakin terik di puncak itu, menandakan waktu sudah sangat siang. Mereka turun dari puncak, melewati ranting-ranting pepohonan. Sepanjang jalan dimas begitu senang. Dimas memandang kebelakang kea rah puncak yang baru saja ia tapaki itu, berterimakasih karena telah menyambutnya dengan baik, dan berterimakasih karena telah memperbolehkannya untuk berdiri disana. Perjalanan untuk turun pun berlanjut hingga akhirnya Dimas tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, sekali lagi pemandangan yang tidak terduga sama sekali oleh Dimas.
            “Ndre…” panggil Dimas.
            “iya dim, kenapa?” jawab Andre.
            “kita dimana?” tanya Dimas yang tidak percaya akan yang dilihatnya.
            “kita di depan surya kencana” kata Andre menghampiri dan berdiri disamping Dimas.
            Surya Kencana. Sebuah Havana yang indah, Havana yang membentang luas dengan rerumputan yang mempercantik keindahannya, diapit oleh dua puncak gunung, dan ditambah dengan manis indahnya bunga abadi, yaitu bunga Eidelweiss. Dimas pun langsun berlari di Havana itu dan berteriak.
            “aaa…”
Andre hanya tesenyum melihat tingkah temannya itu. Di tengah Havana itu Dimas berhenti sejenak melihat sekeliling, memandang dengan kagum akan keindahan Surya kencana. Dimas kembali menangis dan sekali lagi dia bersujud syukur dan berkata.
            “aku akan berusaha untuk menjadi sahabatmu alam”
Andrepun tiba, melihat dimas yang bersujud dan memandang sekitar. Andre menghampiri temannya itu dan berkata.
            “yuk kita jalan lagi, nanti malah kemaleman sampe bawahnya” ajak Andre kepada Dimas.
Dimas pun bangun dan berjalan kembali sambil masih tetap melihat sekeliling. Akhirnya mereka pun sampai dengan selamat sampai di bawah. Dimas yang pulang membawa kebanggan, pelajaran, pengalaman dan kebahagiaan begitupun dengan Andre yang pulang membawa pengalaman berharga karena berhasil membuat dia berguna untuk temannya yaitu Dimas.
            Satu … Satu bulan kemudian Dimas mendapat telfon bahwa Andre telah meninggal, Andre meninggal karena terkena hipotermia ketika mendaki. Sebelumnya ketika Andre ingin mendaki sempat mengobrol dengan Dimas.
            “gw gak mau meninggal disini dim” Kata Andre.
            “ngomong apaan sih lu ndre, jangan ngomong yang aneh-aneh ah” Kata dimas.
            “gw lebih baik mati di gunung Dim, soalnya gw pengen selalu disana ketika gw mati” Itulah obrolan mereka sebelum akhirnya ternyata itu adalah sebuah tanda. Dimas hanya terdiam seribu bahasa di depan kuburan Andre. Dimas sangat bahagia bisa kenal dengannya, beruntung mendapatkan teman seperti Andre. Dalam hati Dimas berkata “terimakasih teman, pengalaman yang engkau berikan dan engkau tanamkan padaku, akan selalu aku ingat dan akan selalu aku terapkan di sini, di dunia yang pernah kita jalani. Sampai bertemu lagi teman, aku merindukan kisah kita di Gunung Gede Pangrango”…












THE END

Pendidikan Atau Pembunuhan?

Pendidikan memang penting tetapi jangan di jadikan sebagai pembunuhan mental dan karakter setiap pelajar atau kepentingan kantong pribadi. Pemerintah menganggap Ujian Nasional itu sangat berguna dan sangat penting, tetapi bagi setiap pelajar belum tentu mereka dapat mengerti akan hal itu. “Pelajar bukanlah kerbau dan pemerintah bukanlah tuhan yang selalu benar” mungkin itu julukan yang pantas. Jika Ujian Nasional itu berguna dan penting, kenapa sampai ada pelajar yang bunuh diri? Dan kenapa harus ada UAS (Ujian Akhir Sekolah) jika UN (Ujian Nasional) lah yangpaling penting untuk menentukan siswa bisa “LULUS” atau “TIDAK LULUS”? Tidak heran jika banyak mental-mental pelajar yang curang, karena sistem pendidikannya yang mengajarkan mereka untuk curang, bagaimana tidak, pastilah sekolah akan mencari jalan apapun demi siswa-siswi nya agar mereka bisa “LULUS” UN (Ujian Nasional).

Tiga tahun bersekolah hanya empat hari untuk menentukan lulus atau tidaknya, mereka harus berjuang keras demi manghadapi itu. Tetapi apakah tidak ada yang berfikiran bahwa itu semua adalah pembunuhan? Bayangkan mereka tiga tahun bersekolah tetapi hanya empat hari yang menentukan mereka lulus atau tidaknya dan dari 13 sampai 15 mata pelajaran yang mereka pelajari itu, hanya 6 mata pelajaran dari setiap penjurusan yang menentukan lulus atau tidaknya. Lihat raut para pelajar ketika menghadapi Ujian Nasional, bermacam-macam raut wajah mereka, sebagian mungkin bisa lulus karna mereka bisa, tetapi yang tidak bisa apakah harus di paksakan untuk bisa? apakah setiap kemampuan dan pemikiran setiap manusia sama? Tidak sama sekali, setiap kemampuan dan pemikiran itu berbeda walaupun sama-sama manusia.

Andro salah satu murid kelas tiga yang akan menghadapi Ujian Nasionalnya, dia selalu mencoba memahami setiap apa yang diberikan oleh gurunya. Hari pertama Ujian Nasional pun dimulai. Andro mencoba tetap tenang dalam menghadapi Ujian Nasional, tetapi ketenangan itu pun selalu terganggu, bagaimana tidak soal yang dikerjakannya berbeda dengan soal temannya yang berada di dalam ruangannya. Diapun harus memikirkan apakah dia bisa atau tidak, ditambah apakah dia bisa lulus atau tidak. Andropun mulai menenangkan kembali pikirinnya. Jam 07.00 dimulainya Ujian Nasional serentak di seluruh indonesia para pengawas pun membagikan soal-soal Ujian Nasional.
            "baiklah anak-anak Ujian Nasional, dimulai" kata pengawas yang berada di ruangan itu.
Andropun mulai melihat-lihat soal yang dia dapatkan dan memperhatikan sekeliling, melihat teman-temannya. Salah satu dari temannya sangat tenang sekali dia mengerjakan soal itu. Andro pun bingung kenapa dia bisa setenang itu sedangkan dirinya tidak. Sekitar lima menit Andro memperhatikannya. Temannya pun melihat pengawas ruangan itu dan kemudia dia menyelipkan selembar kertas pada soal yang dia dapatkan. Andro pun sudah tahu itu adalah kunci jawaban, entah dari mana dia  mendapatkannya. Andro pun kemudian mengabaikan itu dan dia fokus kepada lembar soalnya.

Hari pertama Ujian Nasional berlangsung dengan lancar begitupun hari-hari berikutnya. Pada hari terakhir Ujian Nasional, seketika Andro teringat akan wajah kedua orang tuanya membayangkan bagaimana hasil esok ketika dia menerima surat apakah dia lulus atau tidak. Terbayang akan dia sekolah selama tiga tahun,bagaimana orang tuanya membiayai sekolahnya dan berjuang keras, bersusah payah mencari uang demi pendidikannya. Andro pun terdiam seketika, mengabaikan soal yang ada di mejanya, melihat kearah sudut kelas yang kosong. Pengawas pun melihat Andro yang bengong dan menghampirinya.
“kamu sakit?” pengawas bertanya kepada Andro sambil memegang pundaknya.
“enggak pak” jawab Andro yang kaget dan kembali melihat soal ujiannya.
“oh, bapak kirain kamu sakit” pengawas pun berjalan meninggalkan Andro dan kembali duduk di bangkunya. Andropun kemudian mengerjakan kembali soal ujiannya.
Ujian Nasionalpun berakhir hanya tinggal menunggu surat yang bertuliskan "LULUS" atau "TIDAK LULUS". Seminggu Andro menunggu surat itu. Ketika Andro bersama teman-temannya yang menunggu surat itu di sekolahnya, akhirnya surat pun dibagikan kepada setiap murid, seorang murid menerima surat dan kemudian membuka surat itu.
            “AKU LULUS !!! AKU LULUS !!!" teriak salah satu teman Andro.
            “AKU JUGA LULUS !!!” balas salah satu murid sambil memamerkan suratnya.
            “ALLAHUAKBAR !!! AKU LULUS !!!” balas salah satu murid sambil sujud syukur karena bahagia.
Androtidak membuka surat yang diberikan kepadanya, dia sengaja tidak membuka surat itu karena dia ingin memperlihatkan kepada kedua orang tuanya. Sesampainya Andro di depan rumah dia merasa ada yang aneh bagaimana tidak setiap murid yang menerima surat itu mereka merasakan behagia tetapi Andro sendiri tidak merasa demikian sebahagia mereka. Andro melihat surat itu, betapa kagetnya ketika Andro melihat bahwa di dalam surat itu bukan lah "TIDAK LULUS" yang di coret melainkan "LULUS" yang di coret. Sesampainya andro di de
pan pagar rumahnya, Andro melihat kedua orang tuanya yang melemparkan senyuman kepada dia dari pintu depan rumahnya berharap Andro lulus dan mendapatkan hasil yang memuaskan untuk mereka tetapi Andro hanya membalas sedikit senyuman kepada mereka.
Andro berjalan dengan penuh hati menangis membayangkan kedua orang tuanya yang kecewa ketika mengetahui apa isi surat ini. Seketika Andro menghampiri orang tuanya.
            "kamu lulus kan nak?" kata ayahnya kepada Andro.
            "pasti kamu lulus kan?" tambah ibu.
Dengan penuh senyum dan bahagia kedua orang tuanya bertanya kepada Andro.
"iya aku lulus ayah… ibu…" balas Andro, sambil mencoba tetap tersenyum kepada orang tuanya mencoba menyembunyikan kesedihan hatinya itu, karena tidak ingin senyuman dan kebahagian orang tuanya hilang begitu saja jika mengetahui kalau dia tidak lulus. Andro pun langsung berjalan menuju kamarnya tanpa memberikan hasil surat itu kepada orang tuanya karena dia malu dan takut.

Sesampainya di kamar Andro pun bingung apa yang harus dia lakukan jika dia memberitahu yang sebenernya kepada kedua orang tuanya tidak akan mungkin jika mereka mengetahui yang sebenarnya, pasti mereka akan sangat-sangat sedih dan kecewa. Dalam hati pun Andro bertanya "mengapa ini terjadi? mengapa kepadaku? aku sudah berjuang keras untuk semua ini tetapi mengapa aku mendapatkan hasil yang tidak aku inginkan? apakah ini semua adil?" seketikapun Andro menangis karena tidak dapat berbuat banyak, hanya air mata yang mengungkapkan semua itu. Akhirnya Andropun mengambil tali yang berada di kamarnya karena dia malu, karena dia telah gagal, dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya malu dan tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa ketika mengetahui dia tidak lulus.




Tali pun sudah terikat dengan kencang di ujung lampu dengan sangat menyesal hanya ini yang dapat dia lakukan "lebih baik mati jika harus membuat orang tua kecewa dan menangis" bicara Andro dalam hati sebelum mengikatkan tali ke lehernya...
            Ibu : "Andro, Andro" ibu memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya. Ibupun heran tidak ada suara dari kamar itu ketika di buka pintu itu karena tidak terkunci betapa kagetnya melihat anaknya tergantung tidak bernyawa sambil memegang selembar surat.
            Ibu : " ANDRO !!! ANDRO !!!" ayahpun langsung menghampiri dan sangat kaget ketika melihat Andro sudah tidak bernyawa di pangkuan ibunya.
            Ibu : "Andro, bangun nak bangun" ibu pun memberikan surat yang di pegang di tangan Andro. Seketika ayahnyapun menangis karena kaget melihat surat itu yang mengetahui bahwa anaknya "TIDAK LULUS".





Portofolio Film


film ini menceritakan tentang seorang anak pemulung yang sangat miskin dan hanya tinggal bersama ibunya. Ayahnya telah meninggal disaat ia masih kecil, ia sangat ingin belajar ngaji tapi sayang dia tidak mempunyai baju kokoh karena tidak bisa membelinya. Untuk biaya kehidupan ia bersama emaknya saja sudah sangatlah sulit.
Sutradara : Septio Tulus Pranoto
Kameramen : Bambang Supriyanto
Editor : Septio Tulus Pranoto

Portofolio Foto




































































































































































































































































Explore Malang (2 Days On Malang)