“Lo ngerasa bosen gak sih dengan kehidupan
kaya gini?” Kata dimas kepada andre yang sedang asyik bermain gitarnya.
“maksudnya?” jawab dimas heran dan menghentikan permainan
gitarnya.
“ngampus, balik ke kostan, tidur, gitu-gitu doang setiap hari”.
“ya… bosen sih tapi mau gimana lagi”.
Andre bengong sesaat dan
Dimas kembali bermain dengan gitarnya.
“naik gunung yuk”
ajak Andre kepada Dimas.
“hah… gunung
apa?” jawab Dimas kaget dan kembali menghentikan permainan gitarnya.
“Gunung Gede Pangrango
aja”
“Ayo !!! dari
kecil gw pengen banget naik gunung
ndre” kata dimas yang penuh semangat.
“tapi lo harus
dapet ijin dulu dari orang tua” sambung Andre kepada Dimas.
“loh emang kenapa
ndre?”.
“naik gunung itu gak
boleh asal naik”
“maksudnya ndre?”
“itu udah hukum
alam”
“tapi kalo gak diijinin
ndre?”
“ya, lo harus bisa yakinin mereka dim”
“caranya ndre?”
“lo pengen banget
naik gunung dim?”
“iya ndre”.
“tujuan lo pengen naik gunung itu apa dim?”
“gw pengen bersahabat
sama alam dan gw pengen mengagumi
keindahan alam”
“dan satu lagi jangan lupa lo bakal tau siapa lo disana
sebenarnya”
Dimaspun seketika terdiam.
Memikirkan akan keinginannya itu.
”kalo udah
dapet ijin kabarin gw, kita gapai keinginan lo itu”.
Andre pun mengambil tasnya,
membuka bukunya dan mencopot satu bagian kertas dari bukunya.
“ini yang bakal lo
butuhin disana, semuanya ada disitu, tinggal dicari aja”
Dimas membaca kertas itu,
kertas yang berisikan perlengkepan apa saja yang harus dibawa.
”gw yakin lo bisa kok yakinin mereka buat
menggapai keinginan lo itu” kata
Andre pergi meninggalkan Dimas
dan kembali ke kostannya.
Dimas adalah mahasiswa semester tiga begitupun Andre.
Mereka berteman sejak awal masuk kuliah dan mereka tinggal di kostan yang sama.
Sejak kecil Dimas yang sangat ingin mendaki selalu tidak diijinkan oleh orang
tuanya karena khawatir terjadi apa-apa kepadanya. Berbeda dengan Andre dia
lebih suka berada di gunung dari pada di kota. Handphone Andre berdering dan
melihat ada sms di handphonenya, diapun melihatnya isi pesan itu ternyata pesan
dari Dimas.
“Gw diijinin ndre !!!”. begitulah isi
pesan tersebut.
“oke, nanti ketemuan di Terminal Kampung Rambutan, jangan lupa
perlengkapan yang gw tulis itu wajib”
Andre membalas sms Dimas.
“siap
bos !” sms dari Dimas.
Andrepun
tiba tiba di Terminal Kampung Rambutan dengan
gagah membawa carielnya. Andre memperhatikan sekita, mencari Dimas. Lama
memperhatikan dan mencari Dimas, Dimaspun datang dari belakangnya dan
mengagetkan Andre.
“woi, nungguin
cw lo ya?
“sialan, gw kirain
lu gak bakalan dateng” kata Andre kaget.
“dateng dong, masa gw mau ngejar keinginan gw, gw gak dateng” jawab Dimas.
Andre hanya tersenyum
melihat temannya yang penuh semangat.
“makasih ya ndre,
lo berhasil ngeyakinin orang tua gw”
“bukan gw dim,
tapi lo beloon” sambil memegang
pundak Dimas dan tertawa.
“tuh busnya
dim, yuk berangkat”
“yuk ndre” kata dimas dan mereka berdua pun
bergegas menuju bus dan mencari tempat duduk.
Dalam
perjalanan mereka mengobrol sana sini, membicarakan tentang kuliah, dosen,
tertawa, bercanda, dan membicarakan tentang kehidupan masing-masing. Merekapun
sampai di cibodas, bogor. Mereka turun dari bus dan mencari angkot untuk menuju
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Sesampainya di Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango merekapun masuk dan mendaftar untuk mendapatkan ijin mendaki.
Mereka pun berjalan keluar setelah mendapatkan surat ijin mendaki. Sebelum mereka memulai perjalanan Andre
mengajak Dimas untuk berdoa terlebih dahulu.
“kita
berdoa dulu yuk, biar gak terjadi apa-apa, berdoa mulai…
selesai, udah siap dim?”
“siap
gak siap, ya siapin ndre” jawab dimas, mereka tertawa dan mulai berjalan.
Pos
pertama. Sesampainya di pos pertama Andre masuk dan menyerahkan surat ijin
mendaki sambil memperlihatkan barang-barang yang di bawanya mendaki begitupun
Dimas. Barang-barang pun sudah dimasukan kembali ke dalam cariel masing-masing
mereka kembali melanjutkan perjalanan mendaki. Dalam perjalanan Dimas selalu
melihat banyak sampah yang berserakan baik di pos ataupun perjalanan dan heran
akan hal itu.
“ndre,
emang mereka pada gak peduli yah sama alam? kok
sampah mereka di buang kaya gak ada dosa”
tanya Dimas di tengah perjalanannya.
“itulah
salah satu sifat jelek manusia, mereka gak pernah perduli dengan alam, gak menjaga keindahan alam, kita gak
boleh kaya gitu okeh” jawab andre.
Mereka pun kembali
melanjutkan perjalanan. Berjalan dan berjalan hanya itu yang mereka lakukan,
ditemani pepohonan yang menjulang tinggi dan suara kicauan burung-burung.
Mereka beberapakali berhenti untuk mengisi tenaga, minum dan makan roti, coklat
atau makanan lainnya yang mengandung gandum untuk mengisi perut mereka.
Enam jam mereka berjalan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango akhirnya sampai pada pos Kandang Badak.
“capek ya mendaki
gunung dim?” tanya Andre melihat dimas yang ngos-ngosan.
“banget, kenapa lu
gak bilang kalo mendaki gunung
itu capek” jawab Dimas sambil mencari napas.
“kalo gak mau
capek, naik gondola aja dim hahaha”
balas Andre.
“sialan lo ndre”
tambah dimas disela napasnya yang ngos-ngosan.
“udah, bantuin gw bikin
tenda, kita ngecamp dulu disini besok
baru berangkat lagi” sambil Andre mengeluarkan tenda dari carielnya dan
Dimaspun menaruh carielnya kemudia membantu Andre membuat tenda.
Haripun semakin gelap, Andre
membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Dimas yang berada di dalam tenda
keluar dan ikut bergabung menghangatkan diri di depan api unggun.
“ndre, kok lo gak pernah
keliatan capek atau kedinginan sih?”
tanya Dimas.
“:motivasiin diri aja sendiri aja, banyak orang yang mengeluh capeklah, inilah, itu, karena
mereka gak bisa motivasiin diri
mereka sendiri” jawab Andre.
Dimas hanya terdiam, sangat
beruntung mempunyai teman seperti Andre. Teman yang memberikannya banyak
pelajaran baru untuknya, pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
“hidup itu ibaratkan mendaki, capeknya mendaki capeknya
yang akan lo rasain di kehidupan
nyata, tapi ketika berhasil mencapai puncaknya, kesenangan, kebanggaan,
kebahagian dan keindahan itu adalah sesuatu yang gak ternilai sama sekali” kata andre kepada Dimas.
Dimas hanya diam seribu
bahasa. Bagaikan sebuah pelajaran yang di berikan oleh dosen di waktu kuliah,
tetapi pelajaran itu bukanlah diberikan oleh dosen, melainkan oleh temannya
yaitu Andre.
“tidur yuk,
besok kita harus bangun pagi” ajak Andre kepada Dimas yang terdiam.
Merekapun masuk kedalam
tenda untuk tidur, mengistirahatkan tubuh yang lelah di bawah sinar bulan,
bintang dan api unggun yang mulai redup.
Pagi hari, matahari perlahan muncul dan menerangkan
suasana Kandang Badak. Andre bangun
dan membuka tenda, kemudia keluar tenda untuk merasakan kehangatan dari cahaya
sang mentari. Dimas pun bangun dan melihat Andre sudah tidak ada di dalam
tenda, ia keluar tenda dan melihat Andre yang sedang berdiri menghadap cahaya
matahari. Dimas menghampiri Andre dan bertanya.
“lo lagi
ngapain ndre?”
“menghargai pemberian tuhan” jawab Andre.
Sekali lagi Dimas tercengang
akan temannya itu.
“beres-beres yuk, kita
masih harus lanjut lagi” ajak Andre kepada Dimas.
Mereka pun bergegas kembali
ke tendanya untuk beres-beres. Tenda sudah masuk kedalam cariel Andre dan Dimas
yang bersiap dengan carielnya untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Andre
dan Dimas sudah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak.
“sebelum
kita melanjutkan perjalanan, kita berdoa dulu” ajak Andre dibalas dengan anggukan oleh Dimas.
“berdoa… mulai…” mereka pun berdoa dalam hati agar
perjalanan nantinya tidak terjadi hal yang tidak di inginkan atau yang lainnya.
“selesai… yuk kita jalan” kata Andre dan mereka pun mulai
berjalan untuk menuju puncak.
Dalam perjalanan seketika dimas teringan dengan kehidupannya
di kota.
“ndre…” panggil Dimas.
“iya, dim?” jawab Andre.
“gw nyesel
banget ndre” kata dimas sambil menundukan kepalanya.
“nyesel kenapa dim?” tanya Andre sambil tetapi
memperhatikan langkah kaki dan sekitarnya.
“iya… lo tau kan ndre, di kota gw sering banget buang makanan, minuman gitu aja kalo gak habis”
Andre hanya tersenyum
melihat temannya itu dan mengerti apa yang di dalam pikirannya itu.
“disini itu semua sangat berarti banget ya ndre” tambah
Dimas.
“itulah hukum alam, kita itu bodoh, menyia-nyiakan apa yang udah
diberikan oleh alam, bahkan sebagian mencapakannya, mengabaikannya bahkan
merusaknya” kata Andre.
“gw sering
banget ngeluh capeklah, inilah, itulah, tapi disini, ternyata ngeluh itu gak berguna ya ndre” lanjut Dimas.
“itulah sebabnya gw
ngajak lo naik gunung” jawab
Andre.
“makasih ya ndre,
lo udah member pelajaran banyak buat gw disini”
“bukan gw, tapi
alam” kata Andre yang tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan mereka
kembali.
Satu lagi pelajaran yang berharga di dapatkan oleh Dimas.
Tertunduk diam, tidak bisa berkata apa-apa lagi, bagaikan sebuah tamparan keras
yang mendarat tepat di pipinya, sebuah pukulan yang menghantam langsung kedalam
lubuk hatinya, dan sebuah arti siapa dia ketika berada di alam. Perjalanan yang
semula tanah dan akar-akar pohon yang tidak beraturan sekarang hanya menjadi
ranting-ranting, bebatuan yang besar, kerikil-kerikil, pohon-pohon yang hanya
ranting dan daun yang lebat dan sebagian bunga-bunga untuk mempercantik
pohon-pohon itu, ditambah di balik bebatuan besar itu ada sebuah kawah yang
sangat besar, menandakan sebentar lagi adalah puncaknya, puncak Gunung Gede 1309 Mdpl. Andre menoleh
kearah Dimas, melihat temannya yang sudah sangat lelah. Keringat bercucuran di
sekitar wajahnya, Andre hanya tersenyum dan berkata.
“selamat dim, lo berhasil
mengejar keinginan lo itu”
Dimas melihat sekeliling,
tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Pemandangan yang belum pernah ia
lihat sebelumnya. Dimas melihat di kedepan, melihat sebuah tulisan yang
beruliskan “Puncak Gede 3019 Mdpl”.
Dimas pun menangis tidak dapat menahan air matanya, rasa senang, sedih, dan
bangga semua menjadi satu yang ia rasakan saat itu. Andre yang melihat temannya
itu hanya tersenyum, ia mengerti apa yang dirasakan oleh temannya itu. Dimas
yang menangis langsung menghampiri Andre sambil masih menangis dan berkata.
“sialan lo ndre,
gw udah gak bisa ngomong apa-apa lagi
ndre”
“hahaha… kenapa sih dim?” tanya Andre yang tertawa
melihat Dimas.
“kenapa gak dari
dulu lo ajak gw ndre”
“belum waktunya dim”
“lo adalah
orang pertama yang memberikan pengalaman berharga ini ndre, suatu saat nanti
bakalan gw certain ke orang tua gw, orang tua gw, dan istri gw ndre”
kata Dimas dan langsung melihat sekeliling.
“hahaha… gak segitunya
juga kali” kata Andre yang tertawa mendengar perkataan Dimas.
Dimas hanya terdiam,
memandang sekeliling dengan pandangan terharu dan takjub atas keindahan alam
yang diberikan oleh tuhan. Nafas yang tadinya seperti ingin putus seketika
bagaikan ditambah oksigen yang begitu banyak, tubuh yang lelah seketika menjadi
segar kembali, dan muka yang sayu seketika bagaikan disiram air yang begitu
segar. Dimas pun bersujud syukur dan
mencium tanah puncak itu, puncak yang diberikan oleh tuhan untuk manusia.
Matahari pun semakin terik di puncak itu, menandakan
waktu sudah sangat siang. Mereka turun dari puncak, melewati ranting-ranting
pepohonan. Sepanjang jalan dimas begitu senang. Dimas memandang kebelakang kea
rah puncak yang baru saja ia tapaki itu, berterimakasih karena telah
menyambutnya dengan baik, dan berterimakasih karena telah memperbolehkannya
untuk berdiri disana. Perjalanan untuk turun pun berlanjut hingga akhirnya
Dimas tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, sekali lagi pemandangan yang
tidak terduga sama sekali oleh Dimas.
“Ndre…” panggil Dimas.
“iya dim, kenapa?” jawab Andre.
“kita dimana?” tanya Dimas yang tidak percaya akan yang
dilihatnya.
“kita di depan surya
kencana” kata Andre menghampiri dan berdiri disamping Dimas.
Surya Kencana. Sebuah
Havana yang indah, Havana yang membentang luas dengan rerumputan yang
mempercantik keindahannya, diapit oleh dua puncak gunung, dan ditambah dengan
manis indahnya bunga abadi, yaitu bunga Eidelweiss.
Dimas pun langsun berlari di Havana itu dan berteriak.
“aaa…”
Andre hanya tesenyum melihat
tingkah temannya itu. Di tengah Havana itu Dimas berhenti sejenak melihat
sekeliling, memandang dengan kagum akan keindahan Surya kencana. Dimas kembali menangis dan sekali lagi dia bersujud
syukur dan berkata.
“aku akan berusaha untuk menjadi sahabatmu alam”
Andrepun tiba, melihat dimas
yang bersujud dan memandang sekitar. Andre menghampiri temannya itu dan
berkata.
“yuk kita jalan
lagi, nanti malah kemaleman sampe bawahnya” ajak Andre kepada Dimas.
Dimas pun bangun dan
berjalan kembali sambil masih tetap melihat sekeliling. Akhirnya mereka pun
sampai dengan selamat sampai di bawah. Dimas yang pulang membawa kebanggan,
pelajaran, pengalaman dan kebahagiaan begitupun dengan Andre yang pulang
membawa pengalaman berharga karena berhasil membuat dia berguna untuk temannya
yaitu Dimas.
Satu …
Satu bulan kemudian Dimas mendapat telfon bahwa Andre telah meninggal, Andre
meninggal karena terkena hipotermia ketika mendaki. Sebelumnya ketika Andre
ingin mendaki sempat mengobrol dengan Dimas.
“gw gak mau meninggal disini dim” Kata
Andre.
“ngomong
apaan sih lu ndre, jangan ngomong
yang aneh-aneh ah” Kata dimas.
“gw lebih
baik mati di gunung Dim, soalnya gw pengen
selalu disana ketika gw mati” Itulah
obrolan mereka sebelum akhirnya ternyata itu adalah sebuah tanda. Dimas hanya
terdiam seribu bahasa di depan kuburan Andre. Dimas sangat bahagia bisa kenal
dengannya, beruntung mendapatkan teman seperti Andre. Dalam hati Dimas berkata “terimakasih
teman, pengalaman yang engkau berikan dan engkau tanamkan padaku, akan selalu
aku ingat dan akan selalu aku terapkan di sini, di dunia yang pernah kita
jalani. Sampai bertemu lagi teman, aku merindukan kisah kita di Gunung Gede Pangrango”…
THE END