Jumat, 21 Februari 2014

Persahabatan 3019 Mdpl

            “Lo ngerasa bosen gak sih dengan kehidupan kaya gini?” Kata dimas kepada andre yang sedang asyik bermain gitarnya.
            “maksudnya?” jawab dimas heran dan menghentikan permainan gitarnya.
            “ngampus, balik ke kostan, tidur, gitu-gitu doang setiap hari”.
            “yabosen sih tapi mau gimana lagi”.
Andre bengong sesaat dan Dimas kembali bermain dengan  gitarnya.
            “naik gunung yuk” ajak Andre kepada Dimas.
            “hah… gunung apa?” jawab Dimas kaget dan kembali menghentikan permainan gitarnya.
            “Gunung Gede Pangrango aja
            “Ayo !!! dari kecil gw pengen banget naik gunung ndre” kata dimas yang penuh semangat.
            “tapi lo harus dapet ijin dulu dari orang tua” sambung Andre kepada Dimas.
            “loh emang kenapa ndre?”.
            “naik gunung itu gak boleh asal naik”
            “maksudnya ndre?”
            “itu udah hukum alam”
            “tapi kalo gak diijinin ndre?”
            “ya, lo harus bisa yakinin mereka dim”
            “caranya ndre?”
            “lo pengen banget naik gunung dim?”
            “iya ndre”.
            “tujuan  lo pengen naik gunung itu apa dim?”
            “gw pengen bersahabat sama alam dan gw pengen mengagumi keindahan alam”
            “dan satu lagi jangan lupa lo bakal tau siapa lo disana sebenarnya”
Dimaspun seketika terdiam. Memikirkan akan keinginannya itu.
            ”kalo udah dapet ijin kabarin gw, kita gapai keinginan lo itu”.
Andre pun mengambil tasnya, membuka bukunya dan mencopot satu bagian kertas dari bukunya.
            “ini yang bakal lo butuhin disana, semuanya ada disitu, tinggal dicari aja
Dimas membaca kertas itu, kertas yang berisikan perlengkepan apa saja yang harus dibawa.
            ”gw yakin lo bisa kok yakinin mereka buat menggapai keinginan lo itu” kata Andre pergi meninggalkan Dimas          dan kembali ke kostannya.
            Dimas adalah mahasiswa semester tiga begitupun Andre. Mereka berteman sejak awal masuk kuliah dan mereka tinggal di kostan yang sama. Sejak kecil Dimas yang sangat ingin mendaki selalu tidak diijinkan oleh orang tuanya karena khawatir terjadi apa-apa kepadanya. Berbeda dengan Andre dia lebih suka berada di gunung dari pada di kota. Handphone Andre berdering dan melihat ada sms di handphonenya, diapun melihatnya isi pesan itu ternyata pesan dari Dimas.
Gw diijinin ndre !!!”. begitulah isi pesan tersebut.
oke, nanti ketemuan di Terminal Kampung Rambutan, jangan lupa perlengkapan yang gw tulis itu wajib” Andre membalas sms Dimas.
“siap bos !” sms dari Dimas.
Andrepun tiba tiba di Terminal Kampung Rambutan dengan gagah membawa carielnya. Andre memperhatikan sekita, mencari Dimas. Lama memperhatikan dan mencari Dimas, Dimaspun datang dari belakangnya dan mengagetkan Andre.
woi, nungguin cw lo ya?
“sialan, gw kirain lu gak bakalan dateng” kata Andre kaget.
dateng dong, masa gw mau ngejar keinginan gw, gw gak dateng” jawab Dimas.
Andre hanya tersenyum melihat temannya yang penuh semangat.
            “makasih ya ndre, lo berhasil ngeyakinin orang tua gw
            “bukan gw dim, tapi lo beloon” sambil memegang pundak Dimas dan tertawa.
            “tuh busnya dim, yuk berangkat”
            “yuk ndrekata dimas dan mereka berdua pun bergegas menuju bus dan mencari tempat duduk.
Dalam perjalanan mereka mengobrol sana sini, membicarakan tentang kuliah, dosen, tertawa, bercanda, dan membicarakan tentang kehidupan masing-masing. Merekapun sampai di cibodas, bogor. Mereka turun dari bus dan mencari angkot untuk menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sesampainya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merekapun masuk dan mendaftar untuk mendapatkan ijin mendaki. Mereka pun berjalan keluar setelah mendapatkan surat ijin mendaki.  Sebelum mereka memulai perjalanan Andre mengajak Dimas untuk berdoa terlebih dahulu.
“kita berdoa dulu yuk, biar gak terjadi apa-apa, berdoa mulai… selesai, udah siap dim?”
“siap gak siap, ya siapin ndre” jawab dimas, mereka tertawa dan mulai berjalan.
Pos pertama. Sesampainya di pos pertama Andre masuk dan menyerahkan surat ijin mendaki sambil memperlihatkan barang-barang yang di bawanya mendaki begitupun Dimas. Barang-barang pun sudah dimasukan kembali ke dalam cariel masing-masing mereka kembali melanjutkan perjalanan mendaki. Dalam perjalanan Dimas selalu melihat banyak sampah yang berserakan baik di pos ataupun perjalanan dan heran akan hal itu.
“ndre, emang mereka pada gak peduli yah sama alam? kok sampah mereka di buang kaya gak ada dosa” tanya Dimas di tengah perjalanannya.
“itulah salah satu sifat jelek manusia, mereka gak pernah perduli dengan alam, gak menjaga keindahan alam, kita gak boleh kaya gitu okeh” jawab andre.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Berjalan dan berjalan hanya itu yang mereka lakukan, ditemani pepohonan yang menjulang tinggi dan suara kicauan burung-burung. Mereka beberapakali berhenti untuk mengisi tenaga, minum dan makan roti, coklat atau makanan lainnya yang mengandung gandum untuk mengisi perut mereka.
            Enam jam mereka berjalan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango akhirnya sampai pada pos Kandang Badak.
            “capek ya mendaki gunung dim?” tanya Andre melihat dimas yang ngos-ngosan.
            “banget, kenapa lu gak bilang kalo mendaki gunung itu capek” jawab Dimas sambil mencari napas.
            “kalo gak mau capek, naik gondola aja dim hahaha” balas Andre.
            “sialan lo ndre”  tambah dimas disela napasnya yang ngos-ngosan.
            “udah, bantuin gw bikin tenda, kita ngecamp dulu disini besok baru berangkat lagi” sambil Andre mengeluarkan tenda dari carielnya dan Dimaspun menaruh carielnya kemudia membantu Andre membuat tenda.
Haripun semakin gelap, Andre membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Dimas yang berada di dalam tenda keluar dan ikut bergabung menghangatkan diri di depan api unggun.
            “ndre, kok lo gak pernah keliatan capek atau kedinginan sih?” tanya Dimas.
            “:motivasiin diri aja sendiri aja, banyak orang yang mengeluh capeklah, inilah, itu, karena mereka gak bisa motivasiin diri mereka sendiri” jawab Andre.
Dimas hanya terdiam, sangat beruntung mempunyai teman seperti Andre. Teman yang memberikannya banyak pelajaran baru untuknya, pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
            “hidup itu ibaratkan mendaki, capeknya mendaki capeknya yang akan lo rasain di kehidupan nyata, tapi ketika berhasil mencapai puncaknya, kesenangan, kebanggaan, kebahagian dan keindahan itu adalah sesuatu yang gak ternilai sama sekali” kata andre kepada Dimas.
Dimas hanya diam seribu bahasa. Bagaikan sebuah pelajaran yang di berikan oleh dosen di waktu kuliah, tetapi pelajaran itu bukanlah diberikan oleh dosen, melainkan oleh temannya yaitu Andre.
            “tidur yuk, besok kita harus bangun pagi” ajak Andre kepada Dimas yang terdiam.
Merekapun masuk kedalam tenda untuk tidur, mengistirahatkan tubuh yang lelah di bawah sinar bulan, bintang dan api unggun yang mulai redup.
            Pagi hari, matahari perlahan muncul dan menerangkan suasana Kandang Badak. Andre bangun dan membuka tenda, kemudia keluar tenda untuk merasakan kehangatan dari cahaya sang mentari. Dimas pun bangun dan melihat Andre sudah tidak ada di dalam tenda, ia keluar tenda dan melihat Andre yang sedang berdiri menghadap cahaya matahari. Dimas menghampiri Andre dan bertanya.
            “lo lagi ngapain ndre?”
            “menghargai pemberian tuhan” jawab Andre.
Sekali lagi Dimas tercengang akan temannya itu.
            “beres-beres yuk, kita masih harus lanjut lagi” ajak Andre kepada Dimas.
Mereka pun bergegas kembali ke tendanya untuk beres-beres. Tenda sudah masuk kedalam cariel Andre dan Dimas yang bersiap dengan carielnya untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Andre dan Dimas sudah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak.
            “sebelum kita melanjutkan perjalanan, kita berdoa dulu” ajak  Andre dibalas dengan anggukan oleh Dimas.
            “berdoa… mulai…” mereka pun berdoa dalam hati agar perjalanan nantinya tidak terjadi hal yang tidak di inginkan atau yang lainnya.
            “selesai… yuk kita jalan” kata Andre dan mereka pun mulai berjalan untuk menuju puncak.
            Dalam perjalanan seketika dimas teringan dengan kehidupannya di kota.
            “ndre…” panggil Dimas.
            “iya, dim?” jawab Andre.
            “gw nyesel banget ndre” kata dimas sambil menundukan kepalanya.
            “nyesel kenapa dim?” tanya Andre sambil tetapi memperhatikan langkah kaki dan sekitarnya.
            “iya… lo tau kan ndre, di kota gw sering banget buang makanan, minuman gitu aja kalo gak habis”
Andre hanya tersenyum melihat temannya itu dan mengerti apa yang di dalam pikirannya itu.
            “disini itu semua sangat berarti banget ya ndre” tambah Dimas.
            “itulah hukum alam,  kita itu bodoh, menyia-nyiakan apa yang udah diberikan oleh alam, bahkan sebagian mencapakannya, mengabaikannya bahkan merusaknya” kata Andre.
            “gw sering banget ngeluh capeklah, inilah, itulah, tapi disini, ternyata ngeluh itu gak berguna ya ndre” lanjut Dimas.
            “itulah sebabnya gw ngajak lo naik gunung” jawab Andre.
            “makasih ya ndre, lo udah member pelajaran banyak buat gw disini”
            “bukan gw, tapi alam” kata Andre yang tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan mereka kembali.
            Satu lagi pelajaran yang berharga di dapatkan oleh Dimas. Tertunduk diam, tidak bisa berkata apa-apa lagi, bagaikan sebuah tamparan keras yang mendarat tepat di pipinya, sebuah pukulan yang menghantam langsung kedalam lubuk hatinya, dan sebuah arti siapa dia ketika berada di alam. Perjalanan yang semula tanah dan akar-akar pohon yang tidak beraturan sekarang hanya menjadi ranting-ranting, bebatuan yang besar, kerikil-kerikil, pohon-pohon yang hanya ranting dan daun yang lebat dan sebagian bunga-bunga untuk mempercantik pohon-pohon itu, ditambah di balik bebatuan besar itu ada sebuah kawah yang sangat besar, menandakan sebentar lagi adalah puncaknya, puncak Gunung Gede 1309 Mdpl. Andre menoleh kearah Dimas, melihat temannya yang sudah sangat lelah. Keringat bercucuran di sekitar wajahnya, Andre hanya tersenyum dan berkata.
            “selamat dim, lo berhasil mengejar keinginan lo itu”
Dimas melihat sekeliling, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dimas melihat di kedepan, melihat sebuah tulisan yang beruliskan “Puncak Gede 3019 Mdpl”. Dimas pun menangis tidak dapat menahan air matanya, rasa senang, sedih, dan bangga semua menjadi satu yang ia rasakan saat itu. Andre yang melihat temannya itu hanya tersenyum, ia mengerti apa yang dirasakan oleh temannya itu. Dimas yang menangis langsung menghampiri Andre sambil masih menangis dan berkata.
            “sialan lo ndre, gw udah gak bisa ngomong apa-apa lagi ndre”
            “hahaha… kenapa sih dim?” tanya Andre yang tertawa melihat Dimas.
            “kenapa gak dari dulu lo ajak gw ndre”
            “belum waktunya dim”
            “lo adalah orang pertama yang memberikan pengalaman berharga ini ndre, suatu saat nanti bakalan gw certain ke orang tua gw, orang tua gw, dan istri gw ndre” kata Dimas dan langsung melihat sekeliling.
            “hahaha… gak segitunya juga kali” kata Andre yang tertawa mendengar perkataan Dimas.
Dimas hanya terdiam, memandang sekeliling dengan pandangan terharu dan takjub atas keindahan alam yang diberikan oleh tuhan. Nafas yang tadinya seperti ingin putus seketika bagaikan ditambah oksigen yang begitu banyak, tubuh yang lelah seketika menjadi segar kembali, dan muka yang sayu seketika bagaikan disiram air yang begitu segar.  Dimas pun bersujud syukur dan mencium tanah puncak itu, puncak yang diberikan oleh tuhan untuk manusia.
            Matahari pun semakin terik di puncak itu, menandakan waktu sudah sangat siang. Mereka turun dari puncak, melewati ranting-ranting pepohonan. Sepanjang jalan dimas begitu senang. Dimas memandang kebelakang kea rah puncak yang baru saja ia tapaki itu, berterimakasih karena telah menyambutnya dengan baik, dan berterimakasih karena telah memperbolehkannya untuk berdiri disana. Perjalanan untuk turun pun berlanjut hingga akhirnya Dimas tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, sekali lagi pemandangan yang tidak terduga sama sekali oleh Dimas.
            “Ndre…” panggil Dimas.
            “iya dim, kenapa?” jawab Andre.
            “kita dimana?” tanya Dimas yang tidak percaya akan yang dilihatnya.
            “kita di depan surya kencana” kata Andre menghampiri dan berdiri disamping Dimas.
            Surya Kencana. Sebuah Havana yang indah, Havana yang membentang luas dengan rerumputan yang mempercantik keindahannya, diapit oleh dua puncak gunung, dan ditambah dengan manis indahnya bunga abadi, yaitu bunga Eidelweiss. Dimas pun langsun berlari di Havana itu dan berteriak.
            “aaa…”
Andre hanya tesenyum melihat tingkah temannya itu. Di tengah Havana itu Dimas berhenti sejenak melihat sekeliling, memandang dengan kagum akan keindahan Surya kencana. Dimas kembali menangis dan sekali lagi dia bersujud syukur dan berkata.
            “aku akan berusaha untuk menjadi sahabatmu alam”
Andrepun tiba, melihat dimas yang bersujud dan memandang sekitar. Andre menghampiri temannya itu dan berkata.
            “yuk kita jalan lagi, nanti malah kemaleman sampe bawahnya” ajak Andre kepada Dimas.
Dimas pun bangun dan berjalan kembali sambil masih tetap melihat sekeliling. Akhirnya mereka pun sampai dengan selamat sampai di bawah. Dimas yang pulang membawa kebanggan, pelajaran, pengalaman dan kebahagiaan begitupun dengan Andre yang pulang membawa pengalaman berharga karena berhasil membuat dia berguna untuk temannya yaitu Dimas.
            Satu … Satu bulan kemudian Dimas mendapat telfon bahwa Andre telah meninggal, Andre meninggal karena terkena hipotermia ketika mendaki. Sebelumnya ketika Andre ingin mendaki sempat mengobrol dengan Dimas.
            “gw gak mau meninggal disini dim” Kata Andre.
            “ngomong apaan sih lu ndre, jangan ngomong yang aneh-aneh ah” Kata dimas.
            “gw lebih baik mati di gunung Dim, soalnya gw pengen selalu disana ketika gw mati” Itulah obrolan mereka sebelum akhirnya ternyata itu adalah sebuah tanda. Dimas hanya terdiam seribu bahasa di depan kuburan Andre. Dimas sangat bahagia bisa kenal dengannya, beruntung mendapatkan teman seperti Andre. Dalam hati Dimas berkata “terimakasih teman, pengalaman yang engkau berikan dan engkau tanamkan padaku, akan selalu aku ingat dan akan selalu aku terapkan di sini, di dunia yang pernah kita jalani. Sampai bertemu lagi teman, aku merindukan kisah kita di Gunung Gede Pangrango”…












THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Explore Malang (2 Days On Malang)