Jumat, 21 Februari 2014

Pendidikan Atau Pembunuhan?

Pendidikan memang penting tetapi jangan di jadikan sebagai pembunuhan mental dan karakter setiap pelajar atau kepentingan kantong pribadi. Pemerintah menganggap Ujian Nasional itu sangat berguna dan sangat penting, tetapi bagi setiap pelajar belum tentu mereka dapat mengerti akan hal itu. “Pelajar bukanlah kerbau dan pemerintah bukanlah tuhan yang selalu benar” mungkin itu julukan yang pantas. Jika Ujian Nasional itu berguna dan penting, kenapa sampai ada pelajar yang bunuh diri? Dan kenapa harus ada UAS (Ujian Akhir Sekolah) jika UN (Ujian Nasional) lah yangpaling penting untuk menentukan siswa bisa “LULUS” atau “TIDAK LULUS”? Tidak heran jika banyak mental-mental pelajar yang curang, karena sistem pendidikannya yang mengajarkan mereka untuk curang, bagaimana tidak, pastilah sekolah akan mencari jalan apapun demi siswa-siswi nya agar mereka bisa “LULUS” UN (Ujian Nasional).

Tiga tahun bersekolah hanya empat hari untuk menentukan lulus atau tidaknya, mereka harus berjuang keras demi manghadapi itu. Tetapi apakah tidak ada yang berfikiran bahwa itu semua adalah pembunuhan? Bayangkan mereka tiga tahun bersekolah tetapi hanya empat hari yang menentukan mereka lulus atau tidaknya dan dari 13 sampai 15 mata pelajaran yang mereka pelajari itu, hanya 6 mata pelajaran dari setiap penjurusan yang menentukan lulus atau tidaknya. Lihat raut para pelajar ketika menghadapi Ujian Nasional, bermacam-macam raut wajah mereka, sebagian mungkin bisa lulus karna mereka bisa, tetapi yang tidak bisa apakah harus di paksakan untuk bisa? apakah setiap kemampuan dan pemikiran setiap manusia sama? Tidak sama sekali, setiap kemampuan dan pemikiran itu berbeda walaupun sama-sama manusia.

Andro salah satu murid kelas tiga yang akan menghadapi Ujian Nasionalnya, dia selalu mencoba memahami setiap apa yang diberikan oleh gurunya. Hari pertama Ujian Nasional pun dimulai. Andro mencoba tetap tenang dalam menghadapi Ujian Nasional, tetapi ketenangan itu pun selalu terganggu, bagaimana tidak soal yang dikerjakannya berbeda dengan soal temannya yang berada di dalam ruangannya. Diapun harus memikirkan apakah dia bisa atau tidak, ditambah apakah dia bisa lulus atau tidak. Andropun mulai menenangkan kembali pikirinnya. Jam 07.00 dimulainya Ujian Nasional serentak di seluruh indonesia para pengawas pun membagikan soal-soal Ujian Nasional.
            "baiklah anak-anak Ujian Nasional, dimulai" kata pengawas yang berada di ruangan itu.
Andropun mulai melihat-lihat soal yang dia dapatkan dan memperhatikan sekeliling, melihat teman-temannya. Salah satu dari temannya sangat tenang sekali dia mengerjakan soal itu. Andro pun bingung kenapa dia bisa setenang itu sedangkan dirinya tidak. Sekitar lima menit Andro memperhatikannya. Temannya pun melihat pengawas ruangan itu dan kemudia dia menyelipkan selembar kertas pada soal yang dia dapatkan. Andro pun sudah tahu itu adalah kunci jawaban, entah dari mana dia  mendapatkannya. Andro pun kemudian mengabaikan itu dan dia fokus kepada lembar soalnya.

Hari pertama Ujian Nasional berlangsung dengan lancar begitupun hari-hari berikutnya. Pada hari terakhir Ujian Nasional, seketika Andro teringat akan wajah kedua orang tuanya membayangkan bagaimana hasil esok ketika dia menerima surat apakah dia lulus atau tidak. Terbayang akan dia sekolah selama tiga tahun,bagaimana orang tuanya membiayai sekolahnya dan berjuang keras, bersusah payah mencari uang demi pendidikannya. Andro pun terdiam seketika, mengabaikan soal yang ada di mejanya, melihat kearah sudut kelas yang kosong. Pengawas pun melihat Andro yang bengong dan menghampirinya.
“kamu sakit?” pengawas bertanya kepada Andro sambil memegang pundaknya.
“enggak pak” jawab Andro yang kaget dan kembali melihat soal ujiannya.
“oh, bapak kirain kamu sakit” pengawas pun berjalan meninggalkan Andro dan kembali duduk di bangkunya. Andropun kemudian mengerjakan kembali soal ujiannya.
Ujian Nasionalpun berakhir hanya tinggal menunggu surat yang bertuliskan "LULUS" atau "TIDAK LULUS". Seminggu Andro menunggu surat itu. Ketika Andro bersama teman-temannya yang menunggu surat itu di sekolahnya, akhirnya surat pun dibagikan kepada setiap murid, seorang murid menerima surat dan kemudian membuka surat itu.
            “AKU LULUS !!! AKU LULUS !!!" teriak salah satu teman Andro.
            “AKU JUGA LULUS !!!” balas salah satu murid sambil memamerkan suratnya.
            “ALLAHUAKBAR !!! AKU LULUS !!!” balas salah satu murid sambil sujud syukur karena bahagia.
Androtidak membuka surat yang diberikan kepadanya, dia sengaja tidak membuka surat itu karena dia ingin memperlihatkan kepada kedua orang tuanya. Sesampainya Andro di depan rumah dia merasa ada yang aneh bagaimana tidak setiap murid yang menerima surat itu mereka merasakan behagia tetapi Andro sendiri tidak merasa demikian sebahagia mereka. Andro melihat surat itu, betapa kagetnya ketika Andro melihat bahwa di dalam surat itu bukan lah "TIDAK LULUS" yang di coret melainkan "LULUS" yang di coret. Sesampainya andro di de
pan pagar rumahnya, Andro melihat kedua orang tuanya yang melemparkan senyuman kepada dia dari pintu depan rumahnya berharap Andro lulus dan mendapatkan hasil yang memuaskan untuk mereka tetapi Andro hanya membalas sedikit senyuman kepada mereka.
Andro berjalan dengan penuh hati menangis membayangkan kedua orang tuanya yang kecewa ketika mengetahui apa isi surat ini. Seketika Andro menghampiri orang tuanya.
            "kamu lulus kan nak?" kata ayahnya kepada Andro.
            "pasti kamu lulus kan?" tambah ibu.
Dengan penuh senyum dan bahagia kedua orang tuanya bertanya kepada Andro.
"iya aku lulus ayah… ibu…" balas Andro, sambil mencoba tetap tersenyum kepada orang tuanya mencoba menyembunyikan kesedihan hatinya itu, karena tidak ingin senyuman dan kebahagian orang tuanya hilang begitu saja jika mengetahui kalau dia tidak lulus. Andro pun langsung berjalan menuju kamarnya tanpa memberikan hasil surat itu kepada orang tuanya karena dia malu dan takut.

Sesampainya di kamar Andro pun bingung apa yang harus dia lakukan jika dia memberitahu yang sebenernya kepada kedua orang tuanya tidak akan mungkin jika mereka mengetahui yang sebenarnya, pasti mereka akan sangat-sangat sedih dan kecewa. Dalam hati pun Andro bertanya "mengapa ini terjadi? mengapa kepadaku? aku sudah berjuang keras untuk semua ini tetapi mengapa aku mendapatkan hasil yang tidak aku inginkan? apakah ini semua adil?" seketikapun Andro menangis karena tidak dapat berbuat banyak, hanya air mata yang mengungkapkan semua itu. Akhirnya Andropun mengambil tali yang berada di kamarnya karena dia malu, karena dia telah gagal, dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya malu dan tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa ketika mengetahui dia tidak lulus.




Tali pun sudah terikat dengan kencang di ujung lampu dengan sangat menyesal hanya ini yang dapat dia lakukan "lebih baik mati jika harus membuat orang tua kecewa dan menangis" bicara Andro dalam hati sebelum mengikatkan tali ke lehernya...
            Ibu : "Andro, Andro" ibu memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya. Ibupun heran tidak ada suara dari kamar itu ketika di buka pintu itu karena tidak terkunci betapa kagetnya melihat anaknya tergantung tidak bernyawa sambil memegang selembar surat.
            Ibu : " ANDRO !!! ANDRO !!!" ayahpun langsung menghampiri dan sangat kaget ketika melihat Andro sudah tidak bernyawa di pangkuan ibunya.
            Ibu : "Andro, bangun nak bangun" ibu pun memberikan surat yang di pegang di tangan Andro. Seketika ayahnyapun menangis karena kaget melihat surat itu yang mengetahui bahwa anaknya "TIDAK LULUS".





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Explore Malang (2 Days On Malang)