Pendidikan memang penting tetapi
jangan di jadikan sebagai pembunuhan mental dan karakter setiap pelajar atau
kepentingan kantong pribadi. Pemerintah menganggap Ujian Nasional itu sangat
berguna dan sangat penting, tetapi bagi setiap pelajar belum tentu mereka dapat
mengerti akan hal itu. “Pelajar bukanlah kerbau dan pemerintah bukanlah tuhan
yang selalu benar” mungkin itu julukan yang pantas. Jika Ujian Nasional itu
berguna dan penting, kenapa sampai ada pelajar yang bunuh diri? Dan kenapa
harus ada UAS (Ujian Akhir Sekolah) jika UN (Ujian Nasional) lah yangpaling
penting untuk menentukan siswa bisa “LULUS” atau “TIDAK LULUS”? Tidak heran
jika banyak mental-mental pelajar yang curang, karena sistem pendidikannya yang
mengajarkan mereka untuk curang, bagaimana tidak, pastilah sekolah akan mencari
jalan apapun demi siswa-siswi nya agar mereka bisa “LULUS” UN (Ujian Nasional).
Tiga tahun bersekolah hanya empat
hari untuk menentukan lulus atau tidaknya, mereka harus berjuang keras demi
manghadapi itu. Tetapi apakah tidak ada yang berfikiran bahwa itu semua adalah
pembunuhan? Bayangkan mereka tiga tahun bersekolah tetapi hanya empat hari yang
menentukan mereka lulus atau tidaknya dan dari 13 sampai 15 mata pelajaran yang
mereka pelajari itu, hanya 6 mata pelajaran dari setiap penjurusan yang
menentukan lulus atau tidaknya. Lihat raut para pelajar ketika menghadapi Ujian
Nasional, bermacam-macam raut wajah mereka, sebagian mungkin bisa lulus karna
mereka bisa, tetapi yang tidak bisa apakah harus di paksakan untuk bisa? apakah
setiap kemampuan dan pemikiran setiap manusia sama? Tidak sama sekali, setiap
kemampuan dan pemikiran itu berbeda walaupun sama-sama manusia.
Andro salah satu murid kelas tiga
yang akan menghadapi Ujian Nasionalnya, dia selalu mencoba memahami setiap apa
yang diberikan oleh gurunya. Hari pertama Ujian Nasional pun dimulai. Andro mencoba
tetap tenang dalam menghadapi Ujian Nasional, tetapi ketenangan itu pun selalu
terganggu, bagaimana tidak soal yang dikerjakannya berbeda dengan soal temannya
yang berada di dalam ruangannya. Diapun harus memikirkan apakah dia bisa atau
tidak, ditambah apakah dia bisa lulus atau tidak. Andropun mulai menenangkan
kembali pikirinnya. Jam 07.00 dimulainya Ujian Nasional serentak di seluruh
indonesia para pengawas pun membagikan soal-soal Ujian Nasional.
"baiklah anak-anak Ujian Nasional, dimulai" kata pengawas yang berada di ruangan itu.
Andropun mulai melihat-lihat soal yang dia dapatkan dan memperhatikan sekeliling, melihat teman-temannya. Salah satu dari temannya sangat tenang sekali dia mengerjakan soal itu. Andro pun bingung kenapa dia bisa setenang itu sedangkan dirinya tidak. Sekitar lima menit Andro memperhatikannya. Temannya pun melihat pengawas ruangan itu dan kemudia dia menyelipkan selembar kertas pada soal yang dia dapatkan. Andro pun sudah tahu itu adalah kunci jawaban, entah dari mana dia mendapatkannya. Andro pun kemudian mengabaikan itu dan dia fokus kepada lembar soalnya.
"baiklah anak-anak Ujian Nasional, dimulai" kata pengawas yang berada di ruangan itu.
Andropun mulai melihat-lihat soal yang dia dapatkan dan memperhatikan sekeliling, melihat teman-temannya. Salah satu dari temannya sangat tenang sekali dia mengerjakan soal itu. Andro pun bingung kenapa dia bisa setenang itu sedangkan dirinya tidak. Sekitar lima menit Andro memperhatikannya. Temannya pun melihat pengawas ruangan itu dan kemudia dia menyelipkan selembar kertas pada soal yang dia dapatkan. Andro pun sudah tahu itu adalah kunci jawaban, entah dari mana dia mendapatkannya. Andro pun kemudian mengabaikan itu dan dia fokus kepada lembar soalnya.
Hari pertama Ujian Nasional
berlangsung dengan lancar begitupun hari-hari berikutnya.
Pada hari terakhir Ujian Nasional, seketika Andro teringat akan wajah kedua
orang tuanya membayangkan bagaimana hasil esok ketika dia menerima surat apakah
dia lulus atau tidak. Terbayang akan dia sekolah selama tiga tahun,bagaimana orang
tuanya membiayai sekolahnya dan berjuang keras, bersusah payah mencari uang
demi pendidikannya. Andro pun terdiam seketika, mengabaikan soal yang ada di
mejanya, melihat kearah sudut kelas yang kosong. Pengawas pun melihat Andro
yang bengong dan menghampirinya.
“kamu sakit?” pengawas bertanya
kepada Andro sambil memegang pundaknya.
“enggak pak” jawab Andro yang kaget
dan kembali melihat soal ujiannya.
“oh, bapak kirain kamu sakit” pengawas
pun berjalan meninggalkan Andro dan kembali duduk di bangkunya. Andropun
kemudian mengerjakan kembali soal ujiannya.
Ujian Nasionalpun berakhir hanya
tinggal menunggu surat yang bertuliskan "LULUS" atau "TIDAK
LULUS". Seminggu Andro menunggu surat itu. Ketika Andro bersama
teman-temannya yang menunggu surat itu di sekolahnya, akhirnya surat pun
dibagikan kepada setiap murid, seorang murid menerima surat dan kemudian membuka
surat itu.
“AKU LULUS !!! AKU LULUS !!!" teriak salah satu teman Andro.
“AKU LULUS !!! AKU LULUS !!!" teriak salah satu teman Andro.
“AKU JUGA
LULUS !!!” balas salah satu murid sambil memamerkan suratnya.
“ALLAHUAKBAR
!!! AKU LULUS !!!” balas salah satu murid sambil sujud syukur karena bahagia.
Androtidak membuka surat yang diberikan kepadanya, dia sengaja tidak membuka surat itu karena dia ingin memperlihatkan kepada kedua orang tuanya. Sesampainya Andro di depan rumah dia merasa ada yang aneh bagaimana tidak setiap murid yang menerima surat itu mereka merasakan behagia tetapi Andro sendiri tidak merasa demikian sebahagia mereka. Andro melihat surat itu, betapa kagetnya ketika Andro melihat bahwa di dalam surat itu bukan lah "TIDAK LULUS" yang di coret melainkan "LULUS" yang di coret. Sesampainya andro di depan pagar rumahnya, Andro melihat kedua orang tuanya yang melemparkan senyuman kepada dia dari pintu depan rumahnya berharap Andro lulus dan mendapatkan hasil yang memuaskan untuk mereka tetapi Andro hanya membalas sedikit senyuman kepada mereka.
Andro berjalan dengan penuh hati menangis membayangkan kedua orang tuanya yang kecewa ketika mengetahui apa isi surat ini. Seketika Andro menghampiri orang tuanya.
"kamu lulus kan nak?" kata ayahnya kepada Andro.
"pasti kamu lulus kan?" tambah ibu.
Androtidak membuka surat yang diberikan kepadanya, dia sengaja tidak membuka surat itu karena dia ingin memperlihatkan kepada kedua orang tuanya. Sesampainya Andro di depan rumah dia merasa ada yang aneh bagaimana tidak setiap murid yang menerima surat itu mereka merasakan behagia tetapi Andro sendiri tidak merasa demikian sebahagia mereka. Andro melihat surat itu, betapa kagetnya ketika Andro melihat bahwa di dalam surat itu bukan lah "TIDAK LULUS" yang di coret melainkan "LULUS" yang di coret. Sesampainya andro di depan pagar rumahnya, Andro melihat kedua orang tuanya yang melemparkan senyuman kepada dia dari pintu depan rumahnya berharap Andro lulus dan mendapatkan hasil yang memuaskan untuk mereka tetapi Andro hanya membalas sedikit senyuman kepada mereka.
Andro berjalan dengan penuh hati menangis membayangkan kedua orang tuanya yang kecewa ketika mengetahui apa isi surat ini. Seketika Andro menghampiri orang tuanya.
"kamu lulus kan nak?" kata ayahnya kepada Andro.
"pasti kamu lulus kan?" tambah ibu.
Dengan penuh senyum dan bahagia
kedua orang tuanya bertanya kepada Andro.
"iya aku lulus ayah… ibu…"
balas Andro, sambil mencoba tetap tersenyum kepada orang tuanya mencoba
menyembunyikan kesedihan hatinya itu, karena tidak ingin senyuman dan kebahagian
orang tuanya hilang begitu saja jika mengetahui kalau dia tidak lulus. Andro
pun langsung berjalan menuju kamarnya tanpa memberikan hasil surat itu kepada
orang tuanya karena dia malu dan takut.
Sesampainya di kamar Andro pun
bingung apa yang harus dia lakukan jika dia memberitahu yang sebenernya kepada
kedua orang tuanya tidak akan mungkin jika mereka mengetahui yang sebenarnya,
pasti mereka akan sangat-sangat sedih dan kecewa. Dalam hati pun Andro bertanya
"mengapa ini terjadi? mengapa kepadaku? aku sudah berjuang keras untuk
semua ini tetapi mengapa aku mendapatkan hasil yang tidak aku inginkan? apakah
ini semua adil?" seketikapun Andro menangis karena tidak dapat berbuat
banyak, hanya air mata yang mengungkapkan semua itu. Akhirnya Andropun
mengambil tali yang berada di kamarnya karena dia malu, karena dia telah gagal,
dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya malu dan tidak ingin membuat kedua
orang tuanya kecewa ketika mengetahui dia tidak lulus.
Tali pun sudah terikat dengan kencang di ujung lampu dengan
sangat menyesal hanya ini yang dapat dia lakukan "lebih baik mati jika
harus membuat orang tua kecewa dan menangis" bicara Andro dalam hati
sebelum mengikatkan tali ke lehernya...
Ibu : "Andro, Andro" ibu memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya. Ibupun heran tidak ada suara dari kamar itu ketika di buka pintu itu karena tidak terkunci betapa kagetnya melihat anaknya tergantung tidak bernyawa sambil memegang selembar surat.
Ibu : " ANDRO !!! ANDRO !!!" ayahpun langsung menghampiri dan sangat kaget ketika melihat Andro sudah tidak bernyawa di pangkuan ibunya.
Ibu : "Andro, bangun nak bangun" ibu pun memberikan surat yang di pegang di tangan Andro. Seketika ayahnyapun menangis karena kaget melihat surat itu yang mengetahui bahwa anaknya "TIDAK LULUS".
Ibu : "Andro, Andro" ibu memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya. Ibupun heran tidak ada suara dari kamar itu ketika di buka pintu itu karena tidak terkunci betapa kagetnya melihat anaknya tergantung tidak bernyawa sambil memegang selembar surat.
Ibu : " ANDRO !!! ANDRO !!!" ayahpun langsung menghampiri dan sangat kaget ketika melihat Andro sudah tidak bernyawa di pangkuan ibunya.
Ibu : "Andro, bangun nak bangun" ibu pun memberikan surat yang di pegang di tangan Andro. Seketika ayahnyapun menangis karena kaget melihat surat itu yang mengetahui bahwa anaknya "TIDAK LULUS".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar