Jumat, 21 Februari 2014

Kamera dan Cinta

            “mas, boleh fotoin aku gak?. Suara seorang wanita terdengar dari belakang Dion yang sedang memotret.
Dion menoleh kebelakang dan terbengong ketika melihat wanita itu. Sinta, itulah namanya. Sore itu Sinta dan Dion menghabiskan waktu bersama. Dion sangat senang bisa berkenalan dengan Sinta. Hari-hari berikutnya Sinta dan Dion semakin deka, hingga akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk menjalin hubungan.
            Dua tahun mereka menjalin hubungan. Delon mendapat panggilan untuk pertukaran pelajar dan terpaksa meninggalkan Sinta selama tiga tahun.
            “kamu bakalan ambil itu?”. Tanya sinta kepada Dion.
            “iya, aku akan ambil itu, itu adalah keinginan aku, mimpi aku dan cita-cita aku”. Kata Dion meyakinkan Sinta.
            “berarti kamu bakal ninggalin aku?”. Balas Sinta berharap agar  tidak ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai dan ia sayangi.
Dion terdiam sejenak, suasana menjadi begitu hening. Disatu sisi Dion sangat ingin mengambil pertukaran pelajar itu. Dion melihat kameranya dan melepaskan kameranya dari lehernya.
            “ini kamera aku, anggap kamera ini adalah aku”. Kata Dion tersenyum kearah Sinta.
            “maksud kamu?”. Tanya Sinta heran.
            “rawat kamera ini, jaga dia seperti aku menjaga kamu”. Kata Dion untuk meyakinkan sinta bahwa jarak bukanlah halangan untuk hubungan mereka.
Sinta hanya memegang kameranya dan terdiam, tidak bisas berkata apapun lagi karena sedih akan ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai.
            “tunggu aku tiga tahun yah saying, kita bertemu disini lagi”. Kata Dion disela keheningan diantara mereka berdua.
            “aku sayang sama kamu”. Kata Sinta diiringi dengan air mata yang keluar di sela matanya.
            “aku juga sayang sama kamu”. Balas Dion dan memeluk sinta sambil mengecup keningnya.
            Waktupun terus berjalan, Sinta yang sudah ditinggalkan Dion sekarang lebih sering menjadi seperti Dion, ketertarikannya dengan foto-foto pemandangan membuatnya selalu ingat dengan Dion. Kamera Dion selalu dibawa oleh sinta untuk mengisi kerinduannya terhadap Dion.
            Tiga tahun berlalu begitu cepat. Sinta yang sedang memotret tempat mereka bertemu. Sinta mendengar suara seseorang dari belakangnya, suara yang sangat ia rindukan dan suara yang mengisi kehidupannya.
            “mba, boleh fotoin saya gak?”

Sintapun menoleh kebelakang dan tersenyum senang, ternyata itu adalah Dion. Sintapun langsung menghampiri Dion dan memluk Dion, melepaskan rindu selama tiga tahun mereka tidak bertemu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Explore Malang (2 Days On Malang)