"anak
seni bisa apa?".
"kuliah
seni itu gak di butuhin".
"sarjana seni itu gak cerah masa
depannya".
"kuliah seni? hahaha paling lo cuma jadi pengangguran doang"
"kuliah seni? hahaha paling lo cuma jadi pengangguran doang"
"emang
kamu bisa apa di seni? kamu mau biayain apa nanti anak kamu? lukisan?.
"seni itu
di negri kita gak di hargain"
Ocehan
demi ocehan selalu terdengar dalam benak Rio. Sejak Rio masuk kuliah seni
memang banyak yang selalu menjelekannya, baik saudara, teman bahkan ayahnya
sendiri. Rio yakin bisa sukses disana, tetapi sayangnya banyak anggapan jelek
tentang orang-orang seni. Ayahnya tidak pernah mengijinkan dia untuk kuliah
seni karena mempunyai pandangan yang jelek tentang seni.
Rio
sudah memegang pisau di tangan kanannya, ia ingin mengakhiri hidupnya karena
tidak tahan dengan ocehan-ocehan yang selalu membayangi benaknya. Pisau sudah
berada tepat di tangan kirinya. diatas urat nadi tangan kirinya. Ketika Rio
ingin menggerakan pisau itu, terdengar suara ketokan pada pintu kostannya.
"tok...tok...tok...".
Riopun kaget dan langsung menaruh pisaunya di atas meja.
"siapa?".
Tanya Rio dengan tampang kesal.
Tidak ada
suara dari balik pintu itu. Rio pun bangkit dan membuka pintu kostannya. Di
lihatnya ternyata tidak ada siapa-siapa disana.
Rio pun kembali menutup pintu
kostannya dan kembali duduk, ia mengambil pisau nya kembali dan menempelkannya
kembali. Ketika Rio ingin memutuskan urat nadinya, terdengar lagi suara ketukan
pintu.
“tok…tok…tok…”
Dengan kesal Rio pun teriak dan
berkata. “iya sebentar !”
Riopun
kembali menaruh pisaunya di atas meja dan membuka pintu kostannya. Melihat
sekeliling ternyata masih tidak ada siapa-siapa disana. Riopun heran dan
menutup kembali pintu kostannya. Rio pun langsung mengambil pisaunya dan
berdiri di belakang pintu kostnnya. Rio pun menunggu dari belakang pintu.
Karena kesal Rio ingin membunuh orang yang mengetuk-ngetuk pintunya itu terus
menerus. Dari balik pintu Rio berdiri, terdengar lagi suara seseorang mengetuk
pintunya.
“tok…tok…tok…”
Rio langsung membuka pintu itu dan
mengangkat pisaunya dan langsung mengarahkan ke orang yang mengetuk pintunya
itu. Betapa kagetnya Rio ternyata seorang wanita berdiri di sana dan tersenyum
kepada Rio dan berkata.
“boleh numpang ke toilet?”. Kata
wanita itu.
Rio hanya
terdiam dengan pisau yang di angkatnya. Seketika rio pun tersedar dan
menyembunyikan pisau nya di balik punggungnya.
“bo…boleh kok”. Jawab Rio,
Wanita itu
pun lalu masuk dan menuju toilet di dalam kostannya Rio. Rio pun berjalan kea
rah meja belajarnya dan menaruh pisaunya kembali. Rio terdiam heran, heran
karena sebelumnya tidak pernah ada wanita di kostannya. Rio yang tadinya sedang
kesal seketika berubah menjadi heran dan bertanya-tanya ada apa ini? .
Wanita itu pun keluar dari toilet
sambil membersihkan tangannya dan berkata.
“makasih yah”. Kata wanita itu.
Rio hanya
diam seribu bahasa, memandang wanita itu.
Rio pun tersadar dan langsung berkata kepada wanita itu.
“oh… iya, sama-sama”.
“kamarnya berantakan bener sih”.
Kata wanita itu sambil memperhatikan sekeliling.
“ya ampun ini pisau kok sembarangan
banget sih di taruh nya”. Sambung wanita itu sembari berjalan mengambil pisau
itu dan menaruh di atas lemari Rio.
“ini lagi ada tali, memangnya lagi
pramuka, bikin simpul”. Timpa kata wanita itu dan kembali menaruh nya di atas lemari
Rio.
Rio hanya diam saja. Bingung
menlihat tingkah laku wanita itu. Dalam benaknya Rio sangat heran, ada seorang
wanita datang ke kostannya untuk ke toilet dan kemudian merapihkan alat-alat
yang ingin Rio gunakan untuk mngakhiri hidupnya. Wanita itu pun tersenyum
kearah Rio, berjalan menghampiri Rio dan berkata.
“jangan terulang yah”. Kata wanita
itu dan berjalan keluar kostannya.
Rio pun
tersadar dan bertanya kepada wanita itu sebelum ia pergi meninggalkannya.
“maaf, kamu ngekost disini?”. Tanya rio
kepada wanita itu.
Wanita itu
pun berhenti dan memandang Rio sambil berkata.
“iya, itu kostan aku”. Kata wanita
itu sambil menunjuk kostannya yang tepat berada di depan kostannya Rio.
“oh, itu kostan kamu, aku kirain
kostan itu tidak ada yang menempati”. Kata Rio sambil tersenyum kearah wanita
itu.
“enggak kok, kebetulan aku baru aja
dateng lagi ke kostan aku”. Jelas wanita itu.
“oh… begitu”. Kata Rio sambil
menganggukan-anggukan kepalanya.
“yasudah, aku ke kostan aku dulu
yah, makasih loh toiletnya”. Sambil tersenyum kearah Rio dan pergi masuk menuju
kostannya.
Rio pun
memandang kostan yang berada tepat di depan kostannya itu. Lampunya masih
tetapi tidak di nyalakan, kostan itu tetap gelap gulita. Memang sudah lama
kostan itu selalu gelap dan tidak pernah ada penghuninya. Rio pun menutup
pintunya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memandang langit-langit atap
kostannya, ia pun masih heran dengan kejadian yang baru saja di alaminya. Kamar
kostan yang setau dia tidak pernah ada
penghuninya, ternyata wanita yang baru saja itu adalah penghuninya, ditambah
lagi wanita itu datang tiba-tiba di saat Rio ingin mengakhiri hidupnya dan
tanpa di duga ia pun merapihkan barang-barang yang akan Rio gunakan untuk
mengakhiri hidupnya. Rio pun perlahan mengurungkan niat nya untuk mengakhiri
hidupnya, ia pun perlahan menutup matanya dan mengabaikan kejadian yang tidak
ia duga sama sekali yang barusan terjadi.
“yo, rio…” terdengar suara lelaki
memanggilnya dari luar.
Rio pun
bangun dan membuka pintu kostannya.
“eh elo ky, ada apaan?”. Tanya rio
kepada Rizky teman kampusnya.
“tv lo nganggur gak? Gw pengen
nonton bola nih, kebetulan jagoan gw lagi maen nih sekarang”. Jelas risky.
“nganggur kok tuh”. Jawab Rio.
“gw numpang nonton ye”. Kata risky
dan masuk kedalam kostan Rio.
Rio pun
menatap kostan yang berada tepat di depan kostannya dia. Kostan itu pun masih
tetap gelap gulita, tidak ada tanda kehidupan di dalamnya. Rio pun mengabaikan
itu dan menutup kembali pintu kostannya dan ikut menonton bersama Rizky. Saat sedang
menonton Rio pun bertanya kepada Rizky.
“ky, itu kostan yang depan gw, itu
pemiliknya cw ya?”
Risky pun
kaget mendengar petanyaan Rio.
“hah, cw? Yo itu kostan udah satu
tahun kosong gak ada yang nempatin”. Jelas risky.
“serius lo ky?”. Kata Rio kaget dan
seketika bulu kuduknya pun bangun.
“iya, gw serius, dulu sih ada kabar
bilang sih katanya pernah ada cw yang nempatin kostan itu, tapi dia udah gak
ada, gw denger sih dia meninggal bunuh diri”. Perjelas Rizky kepada Rio.
“bunuh diri?”. Tanya Rio heran dan
penasaran.
“iya, tapi udah setahun yang lalu
dan sampe sekarang itu tuh gak ada yang nempatin”. Jelasnya lagi.
Seketika Rio
pun terdiam dan heran, antara percaya dan tidak percaya dengan semua ini.
“eh, cw gw nelfon, gw balik dulu ya
ke kamar gw”. Timpa Rizky disaat Rio sedang bengong dan langsung bergegas pergi
meninggalkan Rio sambil membawa handphone di tangannya. Seketika suasana begitu
hening, Rio hanya diam seribu bahasa.
#FLASHBACK
“kamu itu wanita, tidak pantas
kuliah seni”
“wanita? Kuliah seni? Mau jadi apa?”
“wanita kok malah kepingin kuliah
seni”
“wanita kuliah seni? Paling cuma
jadi pelacur”
“wanita itu pantesnya kuliah
ekonomi, tidak pantas kuliah seni”
Rani. Wanita
yang mengakhiri hidupnya karena ocehan-ocehan yang selalu menghina dirinya. Ia
mengakhiri hidupnya dengan bergantung diri di dalam kostannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar